Jumat, 30 Maret 2012

Modernisasi Pondok Pesantren Gontor



oleh: Abdul Halim Wicaksono (PAI-5 2012)
Salah satu gerakan modernisasi dunia Islam khususnya di Indonesia adalah Pondok Gontor. Pondok Modern Darussalam Gontor atau biasa disingkat PMDG, didirikan pada tahun 1926 di Desa Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Gagasan yang melatarbelakangi pembentukan Pondok Modern adalah kesadaran bahwa perlu dilakukan modernisasi sistem dan kelembagaan pendidikan Islam; tidak mengadopsi sistem dan kelembagaan pendidikan modern ala Belanda, melainkan dengan modernisasi sistem dan kelembagaan Islam indigenous yaitu ‘pesantren’.

Pendirian Pondok Modern Gontor terinspirasi dari gagasan modern Sumatra Thwalib dan ‘Normal Islam School’ di Sumatra Barat. Hal itu tak lain karena Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, pernah menyelesaikan studinya disana. Namun, ada perubahan besar yang terjadi di Gontor yaitu penerapan sistem pengajaran modern ‘al-Tariqah al-Haditsah’.



Perlu digarisbawahi bahwa apa yang ilakukan Imam Zarkasyi bukanlah sepenuhnya menfotokopi ide dan konsep Normal Islam dan Sumatra Thawalib. Pengaruh gurunya, Al-Hasyimi – seorang ulama, tokoh politik dan sastrawan dari Tunisia yang diasingkan oleh pemerintah Prancis di wilayah penjajahan Belanda – ketika ia belajar di Madrasah Arabiyah Islamiyah di Solo, ikut berperan mendesain perubahan pesantren yang sebelumnya dikelola oleh sang kakek, Ahmad Sahal dan Zainudin Fnnanie, seingga barangkali bisa tampak perbedaan mendasarnya. Perbedaanya juga seperti apa yang dikemukakan oleh Lance Castles bahwa Gontor sngat mengecam keras sistem sekolah umum yang berasal dari kolonial, yang mana peserta didik terlalu banyak diarahkan bila tidak mau dikatakan tujuan utamanya pada pencetakan pegawai tanpa menanamkan cinta belajar. Perbeaan lainya, meminjam ungkapan mantan Mentri Agama, Mukti Ali (almarhum), jika al-Zarnuji lebih banyak menekankan kepada ilmu agama, maka Zarkasyi menekankan kepada ilmu umum dan ilmu agama.

Pembaharuan di Pondok Modern Darussalam Gontor mencakup beberapa aspek pendidikan. Dalam artikel ini penulis mencoba memaparkan tiga aspek modernisasiadalah: (1) pembaharuan dalam aspek kelembagaan, manajemen, dan organisasi pesantren, (2) pembaharuan dalam bidang kurikulum, (3) pembaharuan metode dan sistem pendidikan.

Pembaharuan Aspek Kelembagaan, Management dan Organisasi Pesantren
Pembaharuan aspek kelembagaan di Gontor dimulai dengan pewakafan Pondok Modern Darussalam Gontor kepada lembaga yang disebut Badan Wakaf Pondok Modern Gontor. Ikrar pewakafan ini telah dinyatakan di muka umum oleh ketiga pendiri pondok tersebut. Dengan ditandatanganinya peagam penyerahan wakaf itu, maka Pondok Modern Darussalam Gontor tidak lagi menjadi milik pribadi atau perseorangan sebagaimana umumnya dijumpai di lembaga tradisional. Dengan cara demikian, secara kelembagaan Pondok Modern Gontor menjadi milik ummat Islam, dan semua ummat Islam bertanggung jawab atas segala urusan-urusanya.

Lembaga badan wakaf ini selanjutnya menjadi badan tertinggi di Pondok Modern Darussalam Gontor. Badan inilah yang bertanggung jawab mengangkat kyai untuk masa jabatan lima tahun kedepan. Dengan demikian, kyai bertindak sebagai mandataris (yang diberi mandat) dan bertanggung jawab kepada badan wakaf. Untuk itu, Badan Wakaf memiliki lima program yang berkenaan dengan bidang pendidikan dan pengajaran, peralatan dan pergedungan, pewakafan dan sumber dana, kaderisasi serta bisang kesejahteraan yang semuanya dirangkum dalam program Panca Jangka Pondok Modern Darussalam Gontor.
Dengan struktur kepengurusan yang demikian, maka kyai dan keluarga tidak punya hak material apapun dari Pondok Gontor. Kyai dan guru-guru juga tiak mengurusi uang dari para santri, sehingga mereka tidak pernah membedakan antara santri yang kaya dan yang berkecukupan. Urusan keuangan menjadi tanggung jawab petugas kantor tata usaha yang terdiri dari beberapa santri senior dan guru yang secara periodik bisa diganti. Dengan demikian, pengaturan jalanya organisasi pendidikan menjadi inamis, terbuka dan obyektif.

Pembaharuan bidang Kurikulum di Gontor
Bidang kurikulum ikut diperbaharui i Pondok Modern Darussalam Gontor. Materi yang diajarkan di Gontor merepresentasikan kurikulum yang ada. Kurikulum tersebut / Kurikulum Gontor merupakan perpauan antara ilmu agama (reveale knowledge) dan ilmu kauniyah (acquired knowlege).
Jadi, di Gontor telah terjadi integrasi ilmu pengetahuan. Dengan istilah lain, tidak ada dualisme keilmuan dalam penidikan pesantren. Selain itu, adapula mata pelajaran yang amat ditekankan dan harus menjadi karakteristik lembaga pendidikan ini, yaitu pelajaran bahasa Arab dan bahasa Inggris. Pelajaran bahasa Arab lebih ditekankan pada penguasaan kosa kata, sehingga para santri kelas satu sudah diajarkan mengarang dalam bahasa Arab dengan perbendaharaan kosa kata yang dimilikinya. Pelajaran ilmu alat, yaitu Nahwu dan Sharaf diberikan kepada santri saat uduk di kelas dua, yaitu ketika mereka sudah lancar berbicara dan memahami struktur kalimat. Sedangkan pelajaran Balaghah dan Adab al-Lughah baru diajarkan pada saat santri duduk di kelas empat keatas. Demikian halnya dengan bahasa Inggris, Grammar baru diajarkan ketika santri duduk di kelas tiga, sedangkan materi bahasanya suah diajarkan sejak kelas satu.
Khusus pengajaran bahasa Arab diajarkan engan metode langsung (tariqah mubasyirah/ direct metod) yang diarahkan kepada penguasaan bahasa secara aktif dengan cara memperbanyak latihan (tamrin/ exercixe), baik lisan maupun tulisan. Dengan demikian, tekanan lebih banyak diarahkan pada pembinaan kemampuan anak untuk menfungsikan kalimat secara sempurna, dan bukan paa alat atau tata bahasa tanpa mampu berbahasa. Dalam pengajaran pelajaran bahasa ini, Gontor menerapkan semboyan ‘al-kalimat al-waahiah fi alfi jumlatin khairun min alfi kalimah fi jumlatin waahiah. Artinya: kemampuan menfungsikan satu kata alam seribu susunan kalimat lebih baik daripada penguasaan seribu kata secara hafalan dalam satu kalimat saja.
Untuk mendukung terciptanya moralitas dan kepribadian, kepada para santri diberikan juga pendidikan kemasyarakatan dan sosial yang bisa mereka gunakan untuk melangsungkan kehidupan sosial ekonominya. Untuk ini kepada para siswa diberikan latihan praktis dalam mengamati dan melakukan sesuatu, untuk memberikan gambaran realistik kepada siswa tentang kehidupan dalam masyarakat. Para siswa dilatih untuk mengembangkan cinta kasih yang mendahulukan kesejahteraan bersama daripada kesejahteraan pribadi, kesadaran pengorbanan yang diabdikan demi kesejahteraan masyarakat, khususnya ummat Islam.
Sejalan dengan itu, maka Pondok Modern Darussalam Gontor diajarkan pelajaran tentang etiket atau tatakrama yang berupa kesopanan lahir dan kesopanan batin. Kesopanan batin yang menyangkut akhlak dan jiwa, sedangkan kesopanan lahir termasuk gerak-gerik, tingkah laku, bahkan pakaian yang dikenakan. Khusus yang menopang kelangsungan hidup para santri dalam bidang ekonomi, diberikan pula pelajaran ketrampilan hidup (Life Skills) seperti menyablon, mengetik, kerajinan tangan, pidato/ ceramah, bergaul dengan teman dan masyarakat serta bermuamalah dengan Allah.

Pembaharuan Metode dan Sistem Pendidikan Pondok Gontor
Termasuk pembaharuan metode dan sistem yang dilaksanakan Pondok Modern Darussalam Gontor yaitu mengatur sistem pendidikan klasikal yang terpimpin secara terorganisir dalam bentuk kepanjangan kelas dalam jangka waktu yang ditetapkan. Sistem klasikal ini sebagaimana dilaksanakan di sekolah-sekolah umum milik pemerintah. Hal ini ditempuh dalam rangka menerapkan efisiensi dalam pengajaran, dengan harapan bahwa dengan biaya dan waktu yang relatif sedikit dapat menghasilkan produk yang besar dan bermutu. Di Gontor juga diperkenalkan kegiatan ekstrakurikuler, yaitu kegiatan lain diluar jam pelajaran, seperti: olahraga, kesenian, ketrampilan, latihan pidato dalam tiga bahasa (Arab, Inggris, Indonesia), pramuka dan organisasi pelajar. Semua kegiatan ini dijadikan sebagai kegiatan ekstrakurikuler dalam wadah sistem pesantren yang dijalankan oleh santri sendiri (student goverment). Dalam mengerjakan semua aktifitas itu, santri diharuskan tetap tinggal di pondok pesantren (boarding school), yang diatur dengan disiplin ketat. Disiplin yang diproses menjadi bagian dari kualitas kesadaran, pikiran dan naluri atau dhamir, yang dijadikan pedoman santri untuk membangun kehidupan sosialnya didalam pesantren.
Sistem asrama ini mendukung terciptanya keterpaduan tri-pusat pendidikan, yaitu: pendidikan sekolah (formal), pendidikan keluarga (informal) dan pendidikan masyarakat (non-formal). Ketiga unsur tersebut dapat dipadukan sebagaimana digambarkan berikut. Keluarga mereka adalah para pengasuh, guru dan sesama santri. Sekolah mereka adalah masuk kelas yang berada di lingkungan kampus dan dikelola pesantren, masyarakat adalah masyarakat santri. Sistem asrama ini sangat mendukung penerapan kurikulum selama 24 jam.
Dengan pembaharuan-pembaharuan diatas, Gontor telah memainkan peranan yang sangat vital dalam mempersiapkan masyarakat madani melalui modernisasi sistem pendidikan pesantren.
Disadur dari buku: Gontor dan Pembaharuan Pendidikan Pesantren, K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A, Rajawali Pers, Jakarta: 2005

0 komentar:

Poskan Komentar